Bukan hanya dari ukuran usia orang disebut “orang tua”, misalnya mereka yang menikah diusia muda, berkeluarga dan memiliki keturunannya mereka menjadi orang tua bagi anak-anaknya. Walaupun usia mereka belumlah tua tetapi mereka telah menanggung beban sebagai orang tua, tentunya dengan pola pikir yang berbeda dibanding sebelum mereka berkeluarga.

 

Banyak pasangan muda yang telah menikah dan memiliki banyak persoalan dalam rumah tangganya, hal ini dikarenakan konsep pemikiran mereka yang belum berubah. Kebiasaan dan ketergantungan terhadap orang tua mereka sebagai seorang anak yang belum bisa mandiri masih terbawa sampai mereka memiliki keluarga sendiri dan kemudian merasa belum siap untuk benar-benar menjadi orang tua. Tentunya seiring dengan perjalanan waktu semua perlahan-lahan akan berubah apa lagi dengan hadirnya buah hati ditengah-tengah mereka. Perasaan sebagai ‘orang tua’ akan muncul dengan sendirinya sebagai sesuatu yang alami dari bagian hukum universal kehidupan.

Orang tua juga memiliki arti sebagai orang yang sudah tua. Tua karena kematangan dan pengalaman hidupnya. Asam di gunung garam di lautan semua telah dirasakan oleh orang yang telah mengarungi samudera kehidupan, ini adalah pepatah yang berhubungan dengan orang tua.

Tidak jarang juga kita menemukan kasus-kasus unik dimana ada anak kecil yang memiliki pemikiran seperti orang tua bahkan lebih matang atau kolot dari orang tuanya. Ada beberapa anak yang memiliki insting yang kuat dalam berbagai bidang yang belum pernah mereka tekuni dalam kehidupan ini sebelumnya, umumnya orang menyebutnya sebagai ‘bakat terpendam’. Dalam agama Buddha hal ini tidaklah mengherankan, karena kekuatan kesadaran di masa lampau begitu kuat terbawa sampai kelahiran sekarang ini.

Kasus unik lainnya yang kita bisa dapatkan di masa sekarang ini justru banyak Lansia (orang lanjut usia) yang mengikuti perkembangan jaman dan mode dan memiliki jiwa dan semangat muda melebihi dari mereka yang berusia muda, dengan gaya dan penampilan yang funky walau fisik mereka jelas sudah mengalami proses penuaan seiring hukum ketidakkekalan. Seperti pepatah tua-tua keladi makin tua makin jadi.

Dalam kacamata Dhamma, bagaimana menjalani Kehidupan ini dengan Jalan Tengah yang harmonis dengan manfaat yang bisa kita dapatkan sekarang ini. Menjalani kehidupan ini kita harus memiliki sifat peduli, penuh dengan kasih sayang pada sesama, memberikan sesuatu yang berguna bagi orang lain, dengan mengembangkan sifat toleransi, dan cinta kasih terhadap mereka yang berada di samping dan disekeliling kita.

Jangan hanya mementingkan diri sendiri, dan selalu mempunyai sifat ‘perhitungan’ dan selalu memikirkan untung-rugi, hal ini tentunya hanya akan membawa penderitaan bagi diri sendiri dikemudian harinya. Lewatilah hari-hari dengan bahagia dan tidak meributkan proses ketidakkekalan jasmani atau ‘ketuaan’ dan masalahnya, maka kita akan bebas dan tidak memilki beban dalam kehidupan ini, membuat diri kita merasa berarti dan berguna. Disenangi banyak orang dan merasakan hidup ini penuh arti. Bukan sebaliknya yang tidak mengerti arti hidup ini hanya pasrah menunggu kematian datang padanya, tidak menyadari apa yang akan terjadi kemudian.

Mereka yang selalu memancarkan cahaya kehidupan bagi sesamanya akan terus hidup dengan penerangan sampai kehidupan selanjutnya. Tetapi mereka yang hidup dalam gelap dan tidak mau mencari penerangan, otomatis akan terus terbelengu oleh kegelapan.