Menjaga Pikiran dari Derasnya Ombak Kekalutan Hati

Artikel No Comments »

Bila kita pernah ke pantai untuk menyaksikan dan mendengar  ombak yang datang silih berganti, memecahkan karang dan memberikan suara yang khas dengan deburannya seperti memainkan musik kehidupan. Sebuah nuansa keindahan alam yang tiada tara.

Banyak yang berkata, bila stress pergilah ke pantai, teriaklah kencang-kencang kalahkan suara ombak yang memecahkan karang, maka setidaknya beban hidupmu akan berkurang.

Benarkah?

Ada yang berkata benar, ada yang mengatakan tidak ada efeknya sama sekali.  Ada yang berkata melihat lautan yang terhampar luas, hatinya pun menjadi bebas lepas.  Ada yang berkata, pergi ke pantai, semakin mudah mengingat semua kenangan yang tidak ingin dikenang.  Ada juga yang semakin merasakan sepinya pantai di sore hari, semakin merasakan kesepian di hatinya.

Jadi sesungguhnya apa yang terjadi?

Mampukah Deburan Ombak membuat kita menjadi tenang? Mampukah suasana pantai membuat kita bahagia? Dapatkah hamparan lautan luas membuat berkurangnya semua beban hidup kita?

Tenyata lautan tetaplah lautan, ombak tetaplah ombak, karang masih juga tetap pada tempatnya.

Tetapi pikiran kita yang menjadi penentu segalanya. Pikiran kita yang dapat menentukan kebahagiaan kita sendiri.

Bila saja dihadapan kita terpampang pemandangan yang indah, suara yang merdu, dan suasana yang tenang, tetapi pikiran ini tidak pernah bisa tenang, maka apa yang dilihat, didengar dan dirasakan  tidaklah membantu banyak bagi perkembangan diri kita.

Bila saja dimanapun kita berada, dapat mendengarkan suara hati kita yang damai, yang tenang, yang bahagia, maka apapun yang kita lihat, dengar dan rasakan akan menjadi sebuah keindahan yang luar biasa.

Jadi letak permasalahan sesungguhnya adalah terletak dalam bagaimana cara kita berpikir dan melihat kenyataan yang ada.

  

 Ada yang jauh lebih penting lagi adalah menjaga pikiran kita. Amati gelombang dan riak dari yang namanya gelombang emosi kehidupan, ombak kekalutan hati, dan riak dari keinginan-keinginan rendah yang selalu datang menganggu kehidupan kita.

Bila kita dapat menjaga hati kita, mengamati suara hati kita, melihat dan mendeteksi datangnya gelombang-gelombang yang hanya membuat permasalahan bagi hidup kita, mengamati setiap proses terjadinya deburan dasyat antara keinginan dengan kenyataan yang ada dan Bila kita mau mendengarkan setiap keluh kesah dari arus kehidupan diri kita sendiri, ternyata sumber kebijaksanaan yang luar biasa terdapat disana. Sumber kedamaian yang luar biasa juga terletak disana

 Bijaksana muncul setelah kita mampu melihat, mendengar dan merenungkan dengan jelas setiap suara-suara yang ada dari setiap pergerakan pikiran kita. Menganalisanya apakah bermanfaat atau tidak, apakah merugikan diri sendiri atau tidak, apakah dapat memberikan pencerahan atau tidak, atau sebaliknya hanya menghancurkan diri sendiri, membuat keributan bagi orang lain, dan membuat permasalahan menjadi berlarut-larut. Setelah munculnya kesadaran dari dalam diri tentang apa yang terjadi dalam diri ini, maka barulah seseorang akan mampu bangkit dari segala kerisauan dan masalah yang selalu berkecamuk di dalam hatinya.

 Salam Mudita,

Mudita Center

Sekedar Renungan Saat Purnama

Artikel No Comments »

Tiada orang yg mampu memindahkan gunung. Tetapi para bijaksana akan berkata: “Saat kita melihat gunung dan merenungkannya, gunung yg besar telah berpindah ke dalam mata dan pikiran kita. Kapanpun kita ingin memunculkannya, gunung itu dapat muncul kembali dalam pikiran kita. Bila saja gunung yg besar dapat berpindah ke dalam pikiran kita, Tentu pikiran kita jauh lebih besar daripada sebuah gunung”.

Pikiran kita adalah proyektor terbesar di dunia, planetorium terlengkap di dunia, cctv tercanggih di dunia, kamera dengan giga pixel tercanggih di dunia.
Apapun yg ingin direkam akan terekam dengan baik, apapun yg ingin ditampilkan dan di proyeksikan akan dapat diproyeksikan dengan baik. Begitu hebatnya pikiran kita berproses dengan cepatnya dan memiliki ketajaman gambar yang luar biasa.
Bila gunung yg besar saja dapat berpindah masuk ke dalam hati kita semua. Mengapa kata-kata yang menyakitkan, kenangan yang menyedihkan yg telah berpindah masuk ke dalam hati, tidak bisa kita pindahkan, semudah memindahkan gunung ke dalam hati kita?

Harusnya apa yg sudah di input dapat mudah di erase dan di delete, tp nyatanya? Tidaklah mudah mengapa?
Tanpa disadari kita memiliki “Kemelekatan” terhadap kenangan buruk itu dan begitu menyenangi dan menyayangi hal yang negatif di dalam diri kita sehingga selalu terkenang dalam setiap kesadaran kita.

Benarkah? Bila tidak benar, ayo hapuskan semua memory yang tidak baik, semua kenangan pahit dan beban yang bersarang di pikiranmu, masih banyak hal yang lain yang bermanfaat yang dapat mengisi relung bathinmu.

Salam Mudita,

Mudita Center

Renungan Malam dan Info Mudita Center

Artikel No Comments »

Bila suatu saat di mana semua orang tidak lagi mampu tersenyum, tidak ada daya untuk mengingat di mana dan ke mana berbuat baik. apa yang terjadi?

Tenang, bila saat itu bila masih ada Vihara, akan tetap ada Rupang Sang Buddha dan Bodhisattva yang masih akan tersenyum padamu, masih ada anggota sangha yang akan melayani mu dengan senyumannya, masih ada dharma yang bisa dipelajari dan membuatmu tersenyum.
Tetapi bila semua itu sudah tidak ada lagi?

Pertanyaan yang konyol, tetapi pernahkah kita renungkan tentang hal ini?
jaman masih banyak vihara saja, banyak orang yang sudah sulit tersenyum, dan sudah malas datang ke vihara. banyak alasan yang dikemukakan, antaranya tidak ada waktu.

Saudara bila anda benar sudah tidak lagi diberi waktu, dan memang hidup penuh dengan kekerasan dan kekecewaan. apakah mau sampai benar2 ada waktu untuk mencari obat dari kerasnya kehidupan? rasanya terlambat yah. dan oleh karena itu sadarilah bahwa, saat ini tiada kata terlambat.

Maka mulailah tersenyum, dan cobalah ingat dan lihat dimanakah anda bisa mulai melangkahkan kaki untuk beribadah dan mengenal lebih dalam lagi ajaran Sang Buddha. yang indah pada awalnya indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya.

Menikmati hidup saat ini jauh lebih berarti dari pada menanti hidup di depan yang serba tidak pasti. Selamat merenungkan. Selamat Malam.

Salam Mudita,
Neng Xiu

Info:
Mari langkahkan kaki untuk belajar Dharma.
Dharma Class Mudita Center, Jumat, 20 Agustus 2009 kembali dibuka untuk umum. berlangsung di Mudita Center Lantai 4, jam 19.00 WIB. Semoga membawa kebahagiaan bagi kita semua.

Pembacaan Sutra Kstigarbha akan diadakan tanggal 5 September Jam 09.09 (Kebaktian Gabungan) dilanjutkan dengan Shang Gong. Tanggal 6, 7, 8 diadakan jam 19.00 WIB.  Semoga semua mahluk berbahagia.

Semua Hanya Akan Menjadi Penyesalan

Artikel No Comments »

Setelah melalui keributan yang sangat hebat sepasang suami isteri, datang menghadap kepada Master Zen untuk meminta pencerahan.

Sang Suami berkata: “Master, kami sudah lama menikah, anakpun sudah besar-besar, tetapi rumah tangga kami selalu dirundung masalah, keributan dan ketidakcocokan selalu terjadi setiap hari, Saya sebagai suami ingin bercerai dengan isteri saya, dan hendak mencari pasangan hidup yang baru, mohon pencerahan dari Master.”

Sang Isteri tidak mau kalah berkata: “ Master yang bijaksana, bagaimana saya tidak sabar, setiap hari perlakuan suami saya kasar, tidak peduli dengan anak-anak, saya dengan tulus mengurus semua keperluan rumah tangga, menyiapkan semuanya untuk suami dan anak-anak tercinta dengan penuh kesabaran, melayani suami tanpa pamrih, dan saya selalu setia menemani suami saya walau dengan air mata dan hati yang terluka setiap hari, kerena pada dasarnya ia tidak setia, maka pernah senang berada di rumah. saya ingin bercerai, bagaimana pendapat Master?”

Master Zen berkata: ”Apapun keputusan yang kalian ambil, SEMUA HANYA AKAN MENJADI PENYESALAN, Silakan pulang dengan Bahagia”

Mereka tidak puas, dan berkata: ”Mengapa demikian?”

Master Zen pun berkata:
”Bila saya menyetujui kalian bercerai, maka kamu sebagai isteri, akan menderita, setiap saat bermandikan air mata PENYESALAN, selama ini telah hidup bersama dengan suka duka, membesarkan anak dengan susah payah, karena hal-hal NEGATIF yang selalu terlihat melupakan hal yang POSITIF dari suamimu kemudian bercerai dan harus menghadapi segala persoalan sendiri, mengerjakan semua sendiri, kamu akan selalu menyalahkan diri sendiri. Kamu selalu akan berpikir tentang semua kekuranganmu dan akan MENYESALI perceraian ini, mengapa dahulu tidak mau berubah, mengapa tidak lebih sabar menghadapi suami dan memaafkan semua kesalahannya, mengapa tidak mencoba memperbaiki hubungan ini dan memberikan perhatian yang lebih kepadanya.”

”Kamu sebagai suami, mungkin akan memperoleh kebahagiaan yang baru dengan pilihanmu sendiri, selama belum terjadi masalah baru, maka semua akan terlihat baik-baik saja, benarkah? Semua kondisi kehidupan memiliki dua sisi positif dan negatif, begitu muncul persoalan-persoalan dalam hidupmu yang baru, apakah kau tetap bahagia? Apakah tidak akan muncul PENYESALAN? Mengapa telah mengecewakan orang yang kau telah nikahi dan menemanimu selama ini, meninggalkan anak demi kepuasan sesaat, masalah yang sama akan kembali hadir, dan masalahmu akan menjadi bertambah, kekecewaan dan penyesalahan akan muncul di hari tuamu, melihat sikap benci yang terpancar dari anak-anakmu terhadap kamu,
Jadi PENYESALAN pasti akan ada.

”Bila aku mencegah kalian untuk tidak BERCERAI, maka PENYESALAN pun akan ada, karena kalian akan pulang sekarang, dan kemudian hari akan terulang semua hal yang sama, dan kalian akan menyalahkan saya karena tidak mencegah kalian untuk bercerai,
Kalian tetap tidak akan puas, karena dalam pikiran kalian hanya ada KATA CERAI, tidak ada kata BERUBAH bahkan kata CINTA pun telah lenyap dari pikiran kalian, dan yang pasti kalian tetap hidup dalam KETIDAKPUASAN, dan tidak ada jalan keluarnya”

”PULANGLAH DENGAN BAHAGIA!”

Tapi renungkanlah pesan ini :
”Kebanyakan orang TIDAK PUAS dengan apa yang telah DIPILIHNYA”
”Ketika kalian memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidup kalian, tentu melewati proses yang tidak mudah, bila semua berjalan baik-baik saja, hidup kalian akan bahagia, tetapi begitu muncul segala macam masalah, maka pikiran yang muncul adalah SEANDAINYA…., SEHARUSNYA…., BILA PADA AWALNYA… semua akan membawa ingatan kalian pada pilihan yang dulu telah tersedia. Dan kalian akan menyalahkan keadaan, menyalahkan kondisi, menyalahkan diri sendiri. Mengapa memilihnya tidak memilih yang satunya?”

”Sama seperti memilih membeli barang dari tersedianya pilihan, ketika kita mengambil keputusan untuk membelinya, dan kemudian terjadi KETIDAKPUASAN, maka akan segera berpikir seandainya dulu saya memilih yang satunya.”
Padahal bila kita memilih pilihan yang lain itu sendiri, belum tentu juga bahagia, pasti akan kembali terulang hal yang sama, karena pada dasarnya sifat KETIDAKPUASAN itu selalu ada dalam pikiran kita.”

”Yang salah bukan pilihannya, yang salah adalah PIKIRAN dan SIFAT orang yang memilihnya, yang tidak pernah memiliki rasa PUAS dan BERSYUKUR dengan apa yang telah didapatkannya. Dari pada memilih lagi, lebih baik menjaga apa yang telah ada, merawat yang telah terjalin, dan memperbaiki sesuatu yang perlu diperbaiki.”

”Jadi Pulanglah dengan BAHAGIA, BERCERAILAH dengan BAHAGIA, atau Kembalilah bersama-sama membina RUMAH TANGGA YANG BAHAGIA. Saranku CARILAH KEBAHAGIAAN bukan PENDERITAAN.”

Pembaca semua kembali pada penilaian masing-masing, kebijaksanaan masing-masing, seorang Master Zen yang hebat sekalipun tidak dapat menentukan kebahagiaan anda, karena anda sendiri yang dapat membuat diri anda BAHAGIA.
Diceritakan kembali secara bebas oleh:
Sakya Sugata
www.muditacenter.com

Rendah Diri, Rendah Hati atau Direndahkan?

Artikel No Comments »

“Jangan pernah merendahkan dirimu, sekalipun orang-orang merendahkanmu.”
Sepenggal kata-kata yang pernah saya dengar dan tetap saya simpan sebagai bekal dalam melangkah menyusuri jalan kehidupan yang tidak menentu ini.

Jalan kehidupan yang kadang keras, kadang lembut, kadang lancar kadang tersendat, membutuhkan kesabaran sampai ketidaksabaran pun datang menerpa kita semua.
Rendah diri tidak sama dengan rendah hati, juga tidak sama dengan direndahkan derajat atau harga diri ini.

Rendah diri membuat seseorang berasa minder dan tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri, membuat segalanya berantakan karena tidak berani tampil kepermukaan. hasilnya orang yang minder tidak bisa maju ke depan, tetapi selalu berada di belakang orang yang terdekatnya. selalu bersembunyi di balik orang lain dan tidak bisa menampilkan jati dirinya. Orang seperti ini bukan berarti ia tidak memiliki kemampuan atau keahlian, justru banyak diantara orang yang rendah diri memiliki bakat yang terpendam, hanya saja tidak ada kesempatan untuk ditampilkan.

Rendah hati, sangat penting dan membutuhkan sebuah kebijaksanaan untuk menjadi orang yang rendah hati, tiada sombong mudah disokong dan bersahabat dengan siapa saja, ramah dan bersikap terbuka kepada siapapun yang datang kepadanya. Rendah hati tidak berarti rendah derajatnya. justru sebaliknya orang-orang yang mulia kebanyakan memiliki sifat rendah hati. semakin tinggi kedudukannya semakin besar jiwanya, dan tidak sombong.

Sebaliknya bila direndahkan dan diinjak-injak harga diri ini, sudah sebaiknya berpikir dengan positif.
Bila memang kita memiliki harga diri, berapakah harganya? ternyata tidak ada ukuran apapun untuk menilai harga diri seseorang. Harga diri sesungguhnya hanya EGO saja. EGOSENTRIS seseorang yang merasa perlu dihargai, merasa perlu ditinggikan dan di hormati. sesunguhnya sampai dimana ke”EGO”an itu menjadi-jadi? biasa di kenal juga sebagai ke”AKU”an.
Bila kita mampu menaklukan si ‘EGO’ atau si ‘AKU’ itulah baru dikatakan mereka yang berhati mulia yang nilainya luar biasa tidak ada sesuatu yang dapat menghargainya.

Siapa yang merendahkan maka ia akan direndahkan, hukum sebab akibat yang umum. Tetapi selama kita mampu bertahan dalam “kerendahan” itu sendiri dan dapat bangkit untuk melayani semua tanpa pamrih, maka Ia sudah belajar ilmu “TANAH”.

Tanah yang selalu diinjak-injak, selalu menampung dan menerima apa pun yang diberikan olehnya, diludahi, disiram apapun, dilindas apapun, dibebani sampai dipancang oleh tiang pancang sekalipun, Ia tetap menerima dan selalu memberikan yang terindah bagi semuanya.

Pohon yang tumbur subur, rumput yang menghijau, buah-buah yang ranum dan bunga-bunga yang mekar setiap harinya karena TANAH yang memberikan semuanya tetap tumbuh subur. Bumi tidak marah tetapi memberikan yang terindah untuk semuanya. Tetapi tetap harus hati-hati suatu saat bisa juga terjadi ‘gempa bumi’ atau ‘tanah longsor’.

Semua orang dilahirkan dengan derajat yang berbeda, itu bukan kehendaknya, karena mengikuti orang tua yang melahirkannya. Tetapi derajat bukan ukuran sesoerang mampu atau tidak mampu untuk menjadi sukses dan berhasil. Derajat juga bukan berarti menjadi penghalang seseorang untuk berubah dan mengubah keadaan dan kondisi hidupnya. Karena tidak ada ukuran yang tepat juga untuk menilai seseorang karena derajatnya.
Mereka yang meningkatkan pengetahuan, kerja keras, kesabaran dan kebijaksanaan dirinya sudah tentu akan mengangkat derajat dirinya, derajat keluarganya dan orang tuanya. Seseorang yang berhasil dan bermanfaat bagi banyak orang dan bagi negaranya sudah pasti akan dikenang banyak orang. tentu saja banyak pengorbanan dan perjuangan yang dilakukannya.

Marilah kita meningkatka n kualitas diri untuk menjaga kejernihan hati agar memiliki kerendahan hati dan tidak menjadi orang yang rendah diri, meningkatkan jati diri dan eksistensi diri agar memiliki kualitas hati sehingga tidak mungkin ada yang merendahkan, malah mungkin dapat meningkatkan derajat hidup orang banyak.

Salam Mudita,
Neng Xiu